Langsung ke konten utama

Struktur Serat (dalam proses pembuatan kertas)

Pemahaman mengenai struktur serat sangat diperlukan dalam proses pembuatan pulp, maupun dalam proses pembuatan kertas terutama di refaining. karenanya di artikel ini kita akan mempelajari struktur serat secara singkat dan sederhana.

Melihat serat dari perspektif fisik, dapat dilihat bahwa ia dibangun dari sejumlah lapisan sel dengan sifat yang berbeda-beda.


L = Lumen.
S3 = Lapisan interior dinding sekunder (Secondary wall).
S2 = Lapisan tengah dinding sekunder (Secondary wall).
S1 = Lapisan eksterior dinding sekunder (Secondary wall).
P  = Dinding primer (Primary wall).
M = Lamella tengah (Middle lamella).

Dinding Primer (Primary Wall)


Dinding primer berada di lapisan paling luar dari serat dengan ketebalan berkisar antara 0,1 - 0,3 μm (sangat tipis).

Jumlah lignin di dinding primer cukup tinggi. Kapasitas untuk membengkak dalam air rendah. Jumlah gugus OH di permukaan juga rendah dan karenanya kapasitas untuk membentuk ikatan hidrogen terbatas. Karena itu, untuk dapat membentuk ikatan antar serat, dinding primer harus dihilangkan.

Dinding Sekunder (S1, S2, S3)

Lapisan eksterior (S1) dari dinding sekunder sangatlah tipis dan memiliki kapasitas pembengkakan yang rendah. Ketebalannhya juga bervariasi antara 0,1 - 0,2 μm.

Jumlah gugus OH pada permukaan lapisan S1 rendah. Dengan demikian, S1 memiliki kemampuan terbatas untuk membentuk ikatan hidrogen. Lapisan ini juga mencegah bagian dalam dinding serat untuk menyerap air dan membengkak. Untuk mengatasi ini, maka selama proses pembuatan pulp maupun kertas lapisan S1 harus dipisah atau dihapus sebagian.

Lapisan tengah (S2) dari dinding sekunder jauh lebih tebal daripada lapisan luar P dan S1. Lapisan ini memiliki sekitar 80% dari berat serat itu sendiri dan itu akan memiliki pengaruh konklusif pada sifat-sifat pulp yang sudah jadi. Ketebalannya bervariasi antara 1 - 5 μm serta memiliki Jumlah gugus OH pada permukaan yang tinggi.

Berbeda dengan lapisan lainnya, fibril dalam S2 sebagian besar berorientasi dalam arah utama, yang sama dengan arah longitudinal serat (vertikal keatas). Orientasi seperti itu mempengaruhi kekuatan dan kekakuan serat.

Semua lapisan serat terdiri dari selulosa dan hemiselulosa. Kandungan hemiselulosa dapat bervariasi dalam pulp yang sudah jadi, tetapi umumnya kandungan hemiselulosa di lapisan tengah (S2) lebih tinggi daripada di lapisan luar P dan S1. Hal itu juga terbukti kalau Lapisan S2 memiliki kapasitas pembengkakan yang baik. Semakin banyak hemiselulosa, semakin banyak dinding serat akan membengkak.

Lapisan interior (S3) dinding sekunder yang berbatasan dengan rongga bagian dalam serat (lumen) memiliki ketebalan yang sangat tipis sekitar 0,1 μm. Lapisan S3 ini kadang-kadang juga disebut sebagai "dinding tersier".

Lumen


Di bagian dalam serat ada suatu rongga yang biasa disebut lumen. Ketika kertas diproduksi, serat-seratnya akan menjadi rata dan lumen kurang lebih akan menghilang. Serat kemudian akan mendapatkan penampilan seperti pita (terutama serat yang berdinding tipis).


Lamella Tengah (Middle Lamella)

Zona perekat yang terletak di antara dinding utama sel yang berdekatan disebut lamella tengah. Secara kimia lamella terdiri dari lignin. Biasanya lignin itu bersifat keras dan rapuh tetapi bisa dilunakkan dengan bantuan panas atau bahan kimia.

Kapasitas lignin untuk menyerap air sangatlah rendah. Selain itu, jumlah kelompok OH bebas dalam lignin rendah. Akibatnya, lignin pada permukaan serat dan di dalam dinding serat melemahkan ikatan antara serat dalam lembaran kertas.

Pada semua produksi pulp serat harus diproses sedemikian rupa sehingga lignin dapat hilang atau tidak menutupi permukaan serat.

Jadi untuk memperoleh kertas yang berikatan dengan baik, maka hal yang paling utama kita pertahankan adalah lapisan tengah secondary wall (S2). karena di lapisan tengah memiliki gugus OH yang tinggi dan kandungan lignin yang rendah, sehingga membuat kertas berikatan dengan baik. Dan untuk memaksimalkannya maka kita perlu juga untuk menghilangkan semaksimal mungkin Middle lamella (lignin), karena bisa mempengaruhi ikatan antar serat.

Referensi :
Ebook CEPATEC AB Knut-Erik Persson

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses Pembuatan Kertas (Paper Making Proses)

Proses pembuatan kertas pada dasarnya memiliki dua tahap yaitu, stock preparation (penyediaan stock) dan paper machine (pembentukan lembaran). Salah satu bagian dari stock preparation adalan approach flow system (pengaturan aliran). paper machine di bagi lagi menjadi 2 bagian, yaitu wet end dan dry end. Stock Preparation Stock preparation (SP) merupakan awal proses pembuatan kertas dimana bahan – bahan serat diproses menjadi buburan pulp yang siap dibuat menjadi lembaran kertas. Tahapan proses dalam stock preparation meliputi, penguraian pulp, pembersihan, penggilingan, pencampuran, dan pengkondisian sebelum dikirim ke headbox. Stock preparation dimulai dari pulper hingga headbox. Pulper Proses pertama yaitu penguraian lembaran pulp menggunakan pulper. Pulper adalah tempat penguraian dari padatan pulp menjadi buburan pulp (Stock). Pulp dapat terurai akibat adanya interaksi antara serat dan agitator pulper, serat dengan dinding pulper, dan serat dengan serat lainnya. Ko

Macam-Macam Mesin Kertas

Desain mesin kertas biasanya bervariasi di setiap pabrik, tergantung tipe akhir kertas yang mau dihasilkan. Walaupun jenisnya berbeda-beda tetapi akan selalu ada forming section, press section dan drying section. Forming section Forming section berfungsi untuk membentuk Lembaran kertas yang keluar dari headbox. Serat-serat dalam stok diarahkan searah mesin (MD) kemudian menyebar ke silang mesin (CD), dan selama pembentukan formasi serat-serat itu juga mengalami proses dewatering (pengurangan kadar air). Forming section memiliki 2 bagian utama, yaitu : headbox sederhana dengan roll berlubang wire tipis tempat kertas terbentuk ilustrasi mesin fourdrinier Mesin kertas sederhana tersebut diatas dinamakan mesin Fourdrinier, mesin ini kebanyakan ditemukan di kertas bekas, kraft dan di pabrik kertas karung. ilustrasi mesin hybrid Untuk meningkatkan dewatering, pada mesin Fourdriner sering ditambahkan top wire di wire Fourdrinier. Ini sangat umum pada mesin yang

Wet Streng Agent

Wet strength agent merupakan bahan kimia tambahan yang hanya digunakan pada beberapa jenis kertas tertentu seperti facial tissue, towel paper, dan lain – lain. Penambahan wet strength agent ini bertujuan untuk meningkatkan kekuatan fisik pada kertas ketika kondisi basah. Wet strength agent harus memiliki kemampuan berikatan dengan serat maupun dengan wet strength agent itu sendiri. Wet strength harus dapat terdispersi dalam air, reaktif, dan memiliki afinitas yang baik terhadap serat. Wet strength kertas memiliki peranan yang sangat penting karena memiliki kaitan erat dengan kelancaran mesin kertas terutama pada bagian pengepresan. Wet strength agent memiliki banyak jenisnya, diantaranya : Urea formaldehyde Melamine formaldehyde Polyamidoamine epichlorohydrin (PAAE) karena keterbatasan ilmu serta pengalaman, maka admin hanya bisa menjelaskan 1 jenis saja, yaitu Polyamidoamine epichlorohydrin (PAAE) PAAE PAAE merupakan salah satu wet strength agent yang cocok dig